Minggu, 22 Mei 2011

Biografi :


Riri Riza merupakan salah satu nama populer dalam deretan sutradara film Indonesia. Berkat karya berbobotnya dan sambutan pasar film, dia dianggap sebagai salah satu 'energi' perfilman Indonesia, setelah sebelumnya terpuruk.

Karya film yang diproduksinya meliputi film dokumenter, video klip, iklan layanan masyarakat dan film layar lebar.


Film layar lebar pertama yang disutradarainya berjudul
Kuldesak, yang mulai diproduksi pada 1996 dan dirilis 1998. Riri bekerjasama dengan Mira Lesmana, Nan T. Achnas dan Rizal Mantovani sebagai penulis       
                                            naskah skenarionya.

Selain itu,
Riri pernah terlibat dalam produksi film Internasional, sebagai asisten sutradara Mark Peploe, seorang sutradara Inggris dalam film Victory.

Sementara karya film dokumenter hasil penyutradaraannya berjudul
Anak Seribu Pulau, untuk judul Siulan Bambu Toraja dan Kupu-Kupu di Atas Batikku. Disusul Buku Catatanku, film televisi yang khusus diputar di RCTI untuk memperingati Hari anak-anak Internasional 1997, yang mengantarkannya bersama Mira Lesmana memperoleh nominasi Festival Sinetron Indonesia 1998 untuk Penulisan Cerita Terbaik.

Pria yang pernah menggarap film
Petualangan Sherina, berikutnya mengarap film-film sukses, termasuk di antaranya Eliana, Eliana, Gie, Untuk Rena, Ada Apa dengan Cinta, Rumah ke Tujuh dan film terbarunya, 3 Hari untuk Selamanya (2007).

Kembali berkolaborasi dengan produser
Mira Lesmana, Riri menggarap film LASKAR PELANGI yang diambil dari novel berjudul sama pada 2008. Dalam film ini, Riri memilih menggunakan tokoh-tokoh utama dengan mengambil langsung di daerah aslinya. Terbukti, film ini menjadi film laris sepanjang 2008, bahkan laris memenangkan berbagai penghargaan Internasional. 





Biografi :

Mira Lesmanawati atau lebih dikenal dengan nama Mira Lesmana lahir di Jakarta, 8 Agustus 1964. Mira dikenal sebagai salah seorang produser film yang juga putri musisi Jack Lesmana.

Alumni Institut Kesenian Jakarta ini memulai karirnya di perusahaan periklanan. Pada tahun 1996,
Mira mendirikan Miles Productions, yang kemudian memproduksi beberapa film-film sukses seperti ADA APA DENGAN CINTA (2000) yang sukses menyedot lebih dari 1,6 juta penonton. Sebelum AADC, Mira membuat film PETULANGAN SHERINA (2000), dan dilanjutkan dengan ELIANA-ELIANA (2002) dan RUMAH KE TUJUH (2003).

Meskipun
ELIANA-ELIANA kurang mendapat sambutan di tanah air, namun film yang dibintangi Rachel Maryam ini sukses menyabet penghargaan untuk kategori Best Young Cinema dan Best Critics Cinema di ajang Festival Film Internasional Singapura pada April 2002 dan meraih predikat Special Mention untuk kategori penghargaan Dragons and Tigers for Young Cinemadi ajang Festival Film Internasional Vancouver di Kanada, Oktober 2002.

Mira juga membuat serial
ANAK SERIBU PULAU sebuah program televisi sepanjang 14 episode pada 1997. Film terbarunya SOE HOK GIE (2005) yang dibintangi Nicholas
Saputra juga mendapat sambutan hangat penikmat film tanah air.
Mira menikah dengan aktor Mathias Muchus dan memiliki dua anak, Galih dan Kafka.

Tak pernah membuat sesuatu yang sama, itulah pedoman
Mira dalam memproduksi sebuah film. Kali ini, dibantu Riri Riza, ia memproduseri film LASKAR PELANGI yang diadaptasi dari novel dengan judul sama, karya Andrea Hirata. Hasilnya, film dengan latar belakang pendidikan indonesia ini menjadi film fenomenal tahun 2008.





Biografi :

Deddy Mizwar, lahir di Jakarta, 5 Maret 1955. Ia pertama kali terjun ke dunia film pada 1976, dengan membintangi film CINTA ABADI arahan sutradara Wahyu Sihombing.
Deddy yang pada 1986 pernah terpilih sebagai aktor terbaik dengan meraih empat Piala Citra sekaligus dalam FFI 1986 dan 1987 itu memilih profesinya di bidang teater, dan melepaskan pekerjaannya sebagai pegawai negeri pada 1976.

Sampai kini,
Deddy tercatat telah membintangi 73 judul film, dan berkali-kali meraih penghargaan Piala Citra baik sebagai peran utama maupun peran pembantu. Film-filmnya di antaranya, ARIE HANGGGARA, NAGA BONAR, KEJARLAH DAKU KAU KUTANGKAP, OPERA JAKARTA, SUNAN KALIJAGA, SYECH SITI JENAR dan KUBERIKAN SEGALANYA.

Melalui rumah produksi PT Demi Gisela Citra Sinema yang didirikannya pada 1997,
Deddy memproduksi sejumlah sinetron dan film. Di antaranya, MAT ANGIN, SANG PENGEMBARA, LORONG WAKTU, KIAMAT SUDAH DEKAT dan PARA PENCARIMU. Dalam ketiga sinetron itu, Deddy juga berperan sebagai pemain utama. Sementara versi film layar lebar KIAMAT SUDAH DEKAT menjadi debut pertama filmnya setelah perfilman nasional 'mati suri'.

Film yang dibintangi anaknya
Senandung Nacita, si vokalis band Stinky, Andre Stinky, Ayu Pratiwi dan juga didukung Dewi Yull dan Chintami Atmanegara ini mencoba mengingatkan penonton agar tidak terlena dengan kehidupan duniawi. Selain itu Pak Haji, demikian biasa disebut ingin menyumbangkan karyanya di
saat industri film di tanah air sedang mengalami semangat kebangkitan.

Deddy kemudian memproduksi sekuel NAGA BONAR JADI 2 (2007) yang juga berhasil menjadi film terbaik FFI 2008 dan sekaligus mengantarkan dirinya sebagai Aktor Terbaik. Selain itu, film yang juga dibintangi Tora Sudiro itu juga berhasil menajdi Film Terfavorit dan Aktor Terbaik di Indonesian Movie Award (IMA) 2008.

Deddy sendiri adalah suami Giselawaty Wiranegara, perempuan yang pertama kali ditemuinya saat bersama membintangi film MISTERI JAIPONG (1981). Dari perkawinan tersebut Deddy dikaruniai dua orang anak, Senandung Nakita dan Zulfikar Rakita Dewa.

Akhirnya,
Deddy mengikuti jejak rekan-rekannya sesama artis yang terjun di dunia politik. Berbeda dengan rekan artis lain yang maju sebagai calon legislatif terlebih dahulu, Deddy





Biografi

Dimas Djayadiningrat adalah seorang sineas muda yang  banyak   menyutradarai dan memproduseri film layar lebar. Selain juga dikenal sebagaimusisi dan sutradara video klip.


Pria kelahiran 23 Agustus 1973 itu adalah sosok sutradara dibalik sukses film horror TUSUK JELANGKUNG, kemudian menjadi produser film BANGSAL 13, 30 HARI MENCARI CINTA, CATATAN AKHIR SEKOLAH dan CINTA SILVER. Belakangan Jay menjadi sutradara film komedi dewasa QUICKIE EXPRESS, yang menurutnya didedikasikan untuk Trio Warkop (Dono, Kasino, Indro).


Selain itu, mantan pacar penyanyi dan VJ MTV, Shanty ini pernah menjadi juri Indonesia Idol dalam beberapa kesempatan. 





                                                      Biografi
 
Rudianto Soedjarwo atau lebih populer  dengan nama Rudi Suedjarwo, lahir di Bogor, Jawa Barat, 9 November 1971. Rudi dikenal sebagai seorang sutradara film yang telah mengarahkah banyak film sukses di tanah air.


Rudi dinilai turut menandai bangkitnya industri perfilman Indonesia, setelah sekian lama mengalami kemandekan. 
Rudi dikenal sebagai sutradara yang berhasil membangun film bergenre remaja. Diawali lewat filmnya yang paling menonjol, ADA APA DENGAN CINTA?. film ini pula yang kemudian mengantarkan pemeran utama perempuannya, Dian Sastrowardoyo menerima anugerah Piala Citra pada perhelatan Festival Film Indonesia (FFI) 2004, dan dirinya SEKALIGUS DINOBATKAN sebagai sutradara terbaik.


Kini selain terus berkarya membuat film, Rudi juga mengajar di Reload Film Center, sekolah film yang didirikannya bersama Monty Tiwa
Rudi sendiri adalah putra Anton Soedjarwo seorang mantan Kapolri 1982-1986.





Biografi

Sejak umur sembilan tahun, Rano sudah diajak ayahnya membintangi film Lewat Tengah Malam, memerankan tokoh anak. Namanya mulai dikenal lewat film Si Doel Anak Betawi (1972) karya Sjuman Djaja yang diangkat dari cerita Aman Datoek Madjoindo. Dalam film itu, putra ketiga dari enam bersaudara pasangan Soekarno M. Noer (Minang) dan Istiarti M Noer (Jawa) berperan sebagai pemeran utama. Sejak itu, prestasinya pun mulai kelihatan. Lewat film Rio Anakku (1973), Rano memperoleh penghargaan Aktor Harapan I PWI Jaya (1974). Kemudian, dalam Festifal Film Asia 1974 di Taipei, Taiwan, ia meraih hadiah The Best Child Actor. Selanjutnya ia mendapat peranan-peranan dewasa lewat film Wajah Tiga Perempuan (1976), Suci Sang Primadona (1977), Gita Cinta dari SMA (1979). Untuk mendukung niatnya terjun ke dunia film, Rano pun belajar akting di East West Player, Amerika Serikat.
Ketika industri film Indonesia ‘pingsan’, Rano beralih ke sinetron. Si Doel Anak Sekolahan adalah sinetron paling monumental yang digarapnya bersama saudara-saudaranya dalam Karno’s Film. Dalam sinetron itu, di samping menjadi sutradara, penulis cerita dan skenario, Rano juga ikut main menjadi Si Doel. Selain serial Si Doel Anak Sekolahan 1-6, PT Karnos Film juga menghasilkan sinetron Kembang Ilalang dan Usaha Gawat Darurat.





Biografi

Rizal Mantovani (lahir di Jakarta, 12 Agustus 1967; umur 43 tahun) adalah seorang sutradara Indonesia. Rizal dikenal karena menyutradarai beberapa video klip dan film layar lebar di Indonesia. Dari 1992 hingga 2007 dia sudah mengerjakan hampir 200 video musik dan beberapa iklan televisi, serta menyutradarai 5 buah film.Rizal adalah putra pasangan Mohamad Saleh dan Widji Andarini. Ayahnya adalah diplomat RI. Sebagai anak diplomat, Rizal hidup berpindah-pindah di beberapa negara tempat orang tuannya bertugas saat itu. Perkenalan pertamanya dengan video musik terjadi saat duduk di kelas 2 SMA (Overseas Children's School) di Srilanka, negara tempat ayahnya bertugas tahun 1983. Saat itu temannya, Eddy Setiawan, memiliki kamera home video keluaran terbaru Sony. Karena sama-sama mengidolakan Duran-Duran, muncul keinginan membuat video musik.izal kemudian merambah ke dunia pembuatan video musik. Karena menurutnya video musik saat itu (tahun 1990-an) membosankan dan kurang berwarna. Tawaran pertama datang untuk membuat video musik dangdut "Suka-Sukaku" yang dinyanyikan Helvy Mariyand. Indrawati Widjaja, direktur produksi Musica Studio kemudian menawarkan pembuatan video musik rapper Iwa K berjudul "Kuingin Kembali". Ketika ditayangkan, video musik ini dianggap sebuah terobosan baru dalam industri musik Indonesia. Sejak itu BDI menerima banyak permintaan untuk pembuatan video musik yang dikerjakan Richard bersamanya sebagai asisten. Kerja sama itu berbuah manis. Keduanya meraih gelar sutradara terbaik dalam ajang Video Musik Indonesia 1995 pada acara perdananya melalui video musik "Cuma Khayalan" milik Oppie Andaresta. Duo ini semakin berkibar ketika meraih MTV Asia Viewers Choice Award dalam ajang MTV Music Awards pada 1995 berkat video musik "Sambutlah" yang dibawakan Denada.
                                

Masih banyak lagi cuy, sutradara-sutradara Indonesia terbaik yang menharumkan nama Indonesia di bidang perfiliman.

salah satunya ya saya.hehehehe,,,,